Tahun pelajaran 2020/2021 adalah masa yang cukup sulit dalam mengukur kemampuan siswa dibidang akademik, kondisi pandemi membuat kecakapan siswa dalam belajar menurun drastis, dikhawatirkan siswa akan mengalami penurunan kemampuan IQ dan menjadikan suasana belajar dimasa pandemi menjadi sebuah kebiasaan baru, yang nantinya akan sulit untuk dikembalikan pada posisi semula.

Sebelum terjadi pandemi, KKM di SMPN 1 Ciledug dirasakan sedang mengalami peningkatan, baik dari segi akademik maupun dalam non akademiknya. Sampai tiba covid datang membuat mutu pendidikan di SMPN 1 Ciledug hampir tak berarah, menjadi kekhawatiran saat sekolah tak mampu lagi mengendalikan mutu dan kualitas pendidikan, sehingga ancaman penurunan KKM muncul didepan mata.

Meskipun sedang berada pada kondisi "lunglai", usaha dalam menciptakan pendidikan yang bermutu harus terus digalakan, meskipun ditengah-tengah itu ada faktor lain yang juga sama merosotnya. Berupaya untuk terus berada pada pondasi dan rel yang tepat, adalah pondasi dalam menentukan kebijakan, salah satunya dalam menentukan ukuran Ketuntasan Minumun siswa bidang pembelajaran yang diwujudkan dari hasil ujian yang akan mereka kerjakan. 

Upaya peningkatan mutu, atau dalam hal ini lebih tepatnya mempertahankan mutu pendidikan di SMPN 1 Ciledug, salah satunya dengan mengupayakan kegiatan pembelajaran Online dan Offline, yang dikenal dengan sistem PJJ. Namun agaknya dirasa kurang memuaskan, dilaporkan oleh beberapa guru mata pelajaran yang menyebutkan bahwa nilai yang didapatkan oleh siswa kebanyakan sama, dan itupun dari hasil jawaban yang identik sama dengan Lembar Kegiatan siswa sekelas lainnya. Kemungkinan Lembar Kerja dikerjakan secara bersama, kemudian disamakan jawabannya. 

Tak hanya itu, beberapa guru merasa sulit dalam menentukan kemampuan siswa, apalagi disaat bertemu dengan kondisi siswa yang pasif, meskipun aturannya siswa boleh "japri" langsung ke guru saat menghadapi pelajaran yang dirasa sulit. Dari laporan yang masuk menunjukan, karena siswa tidak ada yang menggunakan cara tersebut (Pembimbingan Online) guru sulit mengukur tingkat pemahaman siswa dalam penguasaan materi, bahkan mereka khawatir jika siswa sebenarnya tidak paham materi yang dikerjakannya, karena jawabannya hasil dari kerja sama.

Dan banyak lagi permasalahan yang muncul selama kondisi Covid 19, membuat sekolah perlu meracik rumusan yang tepat agar siswa bisa memahami materi lebih dalam meskipun dengan kondisi khusus/darurat saat ini. Salah satu racikan yang dilakukan oleh Kurikulum SMPN 1 Ciledug adalah dengan mengadakan (PTS) Penilaian Tengah Semester Ganjil untuk kelas 7, 8 dan 9 dengan metode assesmen penguasaan materi, sesuai dengan assesmen yang diperlukan saat pra pembelajaran tatap muka masa covid 19, oleh kemendikbud.

Yaitu, siswa kelas 8 mengerjakan soal kelas 7 dan kelas 8, dan kelas 9 mengerjakan soal kelas 8 dan 9. Tujuan dari teknik tersebut adalah untuk mengukur sejauhmana penguasaan materi siswa tersebut, jika ternyata siswa belum menguasai materi yang dikelas yang saat ini, maka dinyatakan pembelajaran dengan metode yang dilaksanakan sekarang (PJJ) dinyatakan "kurang berhasil" dan siswa belum paham materi yang ada. Selanjutnya, dari hasil PTS tersebut akan menjadi kajian guru mata pelajaran dan kemudian dibuatkan program-program peningkatan Ketuntasan Minimum peserta didik kedepannya.

Masa pandemi Covid 19 memiliki tantangan yang sangat besar dalam aktivitas pembelajaran secara PJJ (Daring - Luring), Guru dan siswa belajar secara searah (tidak adanya interaktif), tidak tahu seseorang yang "disana" betul-betul belajar atau tidak, hanya mengandalkan hasil Lembar Kegiatan, yang oleh guru juga masih diragukan hasilnya, sehingga dengan dilaksanakannya PTS Ganjil adalah sebagai jawaban yang strategis, menjawab semua keraguan dan permasalahan-permasalahan yang muncul dibenak para guru, orang tua dan masyarakat. Yang terpenting semua harus selaras, memandang cara ini sebagai upaya positif dalam mempertahankan kemampuan siswa dimasa sulit ini. /DA