Para guru menyambut siswa digerbang sekolah dengan bersalaman, dilakukan secara terjadwal oleh guru-guru SMPN 1 Ciledug.

Mulai tahun ajaran baru 2018/2019, SMPN 1 Ciledug menggiatkan penguatan pendidikan karakter disekolah, hal itu terlihat dari beberapa pembiasaan yang dimulai dari pagi hari yaitu menyambut siswa berangkat sekolah. Hal itu dalam rangka meningkatkan kedisiplinan

Ditahun ajaran 2018/2019, program kesiswaan memberikan tindakan kepada siswa yang terlambat masuk sekolah melebihi pukul 07.00 terkecuali hari senin dan sabtu yaitu pukul 06.45 akan dicatat yang kemudian akan diberi sangsi oleh kesiswaan pada waktu-waktu tertentu. 

Sangsi itu bisa berupa mencatat tugas dengan jumlah lembar tertentu, merangkum tugas mata pelajaran dan pemanggilan orang tua jika dianggap siswa melakukan kesalahan berulang kali.

Hal itu bertujuan agar siswa SMPN 1 Ciledug dapat disiplin dalam berangkat ke sekolah. Dari hasil program itu sudah bisa dilihat, tidak adanya siswa yang berangkat melebihi waktu-waktu yang telah ditetapkan tersebut dan bahkan terlambat masuk kesekolah diatas pukul 07.00.

"Pertama harus dipaksa, kedua akan terpaksa, selanjutnya akan terbiasa" kata Ahmad Radianto yang dikenal oleh siswa dengan Pak Anto, saat menjadi pembina upacara senin lalu.

Hal tersebut sejalan dengan pendapat guru BK "Bisa karena terbiasa", dari sinergisitas tersebut menjadikan program kedisiplinan menjadi prioritas dalam pembentukan karakter di SMPN 1 Ciledug. 

Pada tahun-tahun belakangan, siswa kaget dengan situasi tersebut, apalagi dengan pembawaan Pak Anto yang menjadi Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan yang tegas, tapi sejalannya waktu siswa sudah bisa menerima keadaan dan memahami  fungsinya.

Akan tetapi, tantangan mendisiplinkan siswa ditahun-tahun sekarang amatlah berat, karakter siswa telah berubah, tidaklah sama seperti karakter siswa pada 5 tahun kebelakang, apalagi hal yang paling ditakuti para petugas kedisiplinan dilapangan adalah jerat hukum yang akan mengenai mereka jika ternyata ada hal yg dianggap masuk kedalam tindak pidana yang dirasakan oleh para orang tua siswa setelah anaknya dihukum disekolah.

Segala bentuk protes dari para orang tua telah menjadi bahan kajian, dan tentunya menjadi pertimbangan dalam penindakan selanjutnya, akan tetapi protes itu membuat SMPN 1 Ciledug menjadi lebih kuat lagi dan terus berkomitmen untuk membangun sekolah yang disiplin. 

"Sebenarnya membingungkan saat ditanya bagaimanakah yang dimaksud dengan pendidikan karakter disekolah itu? Kurtilas tidak memberikan gambaran yang jelas, apa bentuknya dan apa yang harus kami lakukan? Akan tetapi, meskipun kurtilas tidak menyebutkan itu, SMPN 1 Ciledug akan terus berkomitmen menguatkan karakter siswa agar sejalan dengan fungsi pendidikan karakter yang membentuk siswa menjadi Cageur, Bageur, Bener dan Pinter" tutur Nurwahid sebagai kepala SMPN 1 Ciledug saat memberikan penguatan kepada seluruh GTK  yang lalu.

Jika bertanya tentang pembentukan karakter, maka jawabannya adalah butuh waktu, karena karakter tidak bisa terbentuk dalam waktu yang sangat singkat, bahkan karakter yang kuat terbentuk dari kebiasaan yang bertahun-tahun. Tapi meskipun siswa berada di SMPN 1 Ciledug hanya selama 3 tahun, target kurikulum di SMPN 1 Ciledug akan terus mengupayakan mereka terbentuk sifat dan karakter disiplinnya. Karena disiplin merupakan salah satu modal dasar dari berbagai kesuksesan, baik dalam belajar maupun kehidupan dimasa yang akan datang.

Dan jika mau melihat hasil dari kedisiplinan yang diterapkan dalam kehidupan sekolah, lihatlah sekolah-sekolah yang menggunakan metode kedisplinan ekstra ketat, seperti Akpol, Sekolah Taruna dan lain sejenisnya, tentunya kita bisa menilai bahwa kedisiplinan merupakan awal keberhasilan dari usaha dari situlah SMPN 1 Ciledug belajar banyak.

Jadi apapun hukuman yang diterima oleh para siswa yang melanggar aturan sekolah, semuanya bertujuan untuk membentuk karakter siswa dan itupun sejalan dengan kurtilas dan bahkan tujuan Pendidikan Nasional yang tertuang pada UU No. 20 tahun 2003 yang berbunyi "mengembangkan potensi agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara demokratis serta bertanggung jawab".

"Kita adalah apa yang dilakukan berulang kali, keunggulan bukan dari  tindakan tapi dari kebiasaan". ~Aristotales.

Pahami tujuannya, jadilah patriot yang mengakui kesalahan diri sendiri. Orang yang terus belajar adalah orang yang memiliki masa depan.