Penulis : Tyas Novi Andhika

CGP angkatan 4 Kabupaten Cirebon

 

Budaya menurut kamus Bahasa Indonesia (KBBI) dapat diartikan dengan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sudah sukar diubah. Kebiasaan yang berulang-ulang akan membentuk sebuah budaya, baik itu kebiasaan positif maupun kebiasaan negatif, jika berulang-ulang maka akan sukar dirubahnya karena sudah menjadi sebuah budaya. Budaya positif terbentuk dari kebiasaan-kebiasaan positif yang dilakukan secara berulang-ulang..

Untuk membentuk sebuah budaya maka diperlukan pemahaman yang baik akan nilai kesadaran dari perilaku yang dilakukannya, semisal jika ingin membentuk budaya positif maka seseorang harus sadar bahwa dirinya harus membiasakan diri berperilaku positif, terus berupaya, dan berkomitmen untuk menjaga konsistensi periaku yang positifnya, sehingga dari kebiasaanya tersebut akan membentuk sebuah budaya positif yang kuat.

Seperti halnya dalam membentuk budaya positif di sekolah, semua warga sekolah harus ikut andil mewujudkan usaha tersebut, tidak bisa dilakukan hanya oleh siswa saja, atau gurunya saja, atau bahkan buku program-program saja, namun semuanya harus saling berkolaborasi dan bersinergi dalam mewujudkanya. Jika masih terdapat pihak yang belum bersinergi maka pembentukan budaya positif bisa jadi pincang atau bahkan bisa jadi gagal.

Budaya positif di sekolah bisa dilakukan melalui rangkaian program sekolah yang dimulai dari program kurikulum di satuan pendidikannya, yang kemudian dijabarkan ke dalam masing-masing komponen pendukungnya. Pembentukan budaya bisa dimulai dari siswa masuk ke gerbang sekolah sampai dengan pulang sekolah, dan bahkan budaya positif bisa dilakukan melalui kegiatan tatap maya. Contoh kegiatan yang dapat dilakukan untuk membentuk kebiasaan yang positif di sekolah diantaranya :

  1. Siswa melaksanakan Senyum, Sapa dan Salam ketika memasuki gerbang sekolah, disambut hangat oleh guru dengan menjawab Senyum, sapa dan Salam mereka.
  2. Siswa dibiasakan untuk selalu menggunakan Bahasa yang sopan dan santun, baik kepada sesame siswa maupun kepada orang dewasa di sekolah.
  3. Melaksanakan sikap hormat kepada guru, baik guru pengajarnya maupun bukan.
  4. Siswa berperilaku sopan dan santun selama bergaul, tetap memperhatikan etika saat bergaul.
  5. Menjunjung nilai-nilai positif selama belajar di sekolah, dan menjalankan aturan secara suka rela.

Membangun usaha yang konsisten agar tetap selalu berperilaku positif harus diiringi dengan komitmen para orang dewasa yang ada di sekolah ( Kepala sekolah, Guru, TU dan lainnya). Percuma jika keinginan membentuk budaya positif tapi orang dewasanya tidak memberikan contoh keteladanan yang baik di depan anak didiknya, justru berbahayanya apabila siswa mengikuti perilaku guru yang tidak baik dan menganggapnya itu adalah sebuah kebiasaan, akan sukar apabila sudah menjadi sebuah budaya.

Tidak jarang kita melihat perilaku-perilaku yang tidak mencontohkan perilaku positif oleh para oknum orang dewasa di sekolah di depan para muridnya. Misalnya, guru yang suka menghardik, merendahkan martabat siswa, suka berkata yang tidak terpuji, berperilaku tidak selayaknya guru panutan, berjoged-joged depan siswa dan masih banyak lainnya. Sepertinya masih banyak guru yang berperilaku demikian, meskipun tidak semuanya dilakukan, akan tetapi sikap tidak mendidik yang sering diperlihatkan kepada siswa akan timbul menjadi pembenaran, misalnya saja guru yang suka berjoged di depan siswa dan hal seperti ini berulang-ulang, maka yang terjadi dibenak siswa adalah perilaku joged di sekolah merupakan sesuatu yang diperbolehkan dan tidak melanggar koridor pendidikan yang positif.

Untuk memulai pembentukan budaya positif diawali dari kesadaran masing-masing pihak, baik guru, peserta didik dan lainnya. Semuanya harus menyadari bahwa pola tingkah laku kita berdampak pada pembentukan budaya di sekolah. Pemahaman akan perilaku-perilaku yang diperbolehkan dan dilarang harus disadari secara utuh, sebagaimana sekolah merupakan filter budaya dari dunia luar, yang kemudian disaring dan ditetapkan berlaku atau tidaknya untuk diterapkan oleh warga sekolah.

Semuanya harus dalam koridornya masing-masing, guru boleh berjoged tapi tidak didepan siswa. Menahan diri dari gerakan-gerakan yang bisa dikategorikan kurang mendidik, meskipun tidak didepan siswa sekalipun. Karena bagaimanapun juga untuk menjadi guru wajib memiliki 4 dimensi, yaitu pribadi, sosial, pedagogis dan profesional, ke empat dimensi ini dapat menjadikan guru lebih bermartabat. Saat diri kita menjadi seorang guru berarti kita harus melepas jubah-jubah yang dapat merusak citra guru secara pribadi maupun pada umumnya. Guru adalah digugu dan ditiru, kalau perilaku kita negatif, bisa jadi yang ditiru oleh murid kita adalah perilaku negatifnya.

Membangun budaya positif berarti membangun ekosistem yang utuh, berbagai pihak harus saling mendukung, sadar diri dan berkomitmen untuk mewujudkan sekolah yang berbudaya postif. Sikap terbuka bagi semua pihak menjadi salah satu kunci kesuksesan membangun budaya positif. Semua pihak mau berubah dan mau menggerakan untuk menuju perubahan yang lebih bermartabat.